Ladies, ini manfaat TIDAK cukur bulu kemaluan bagi aktivitas seksual


BERANDA.COM IS FOR SALE 500,000 USD. WA (62) 081-550-58587.
SUITABLE FOR MARKETPLACE, NEWS PORTAL, SEARCH ENGINE, PROPERTY ETC.

ladies-ini-manfaat-tidak-cukur-bulu-kemaluan-bagi-aktivitas-seksual

Mungkin sudah jadi hal yang umum jika seseorang merasa perlu untuk mencukur bulu kemaluannya. Berbagai isu seperti kehigienisan dan kekhawatiran akan terjangkit rasa gatal di bawah sana, menjadi alasan bagi seseorang untuk mencukur bulu kemaluannya.

Bahkan dilansir dari The Atlantic, 60 persen wanita Amerika Serikat berusia 18 hingga 24 tahun ternyata selalu dalam keadaan ‘bersih’ di bagian tersebut. Alasannya sama, kebersihan, mereka berpikir tak seharusnya ada rambut tumbuh di situ, serta mereka berpikir bahwa hal tersebut seksi.

Namun apakah hal tersebut benar? Apakah benar mencukur bulu kemaluan membuat daerah kewanitaan jadi bersih?

Ternyata jawabnya belum tentu. Karena ‘bau’ tidak selalu berhubungan dengan kurangnya kebersihan. Hal ini tiba-tiba jadi penting karena banyak yang sekedar mencukur bulu kemaluan mereka hanya karena mereka beraktivitas dan daerah tersebut jadi bau. Padahal hal tersebut tidak sepenuhnya ‘nyambung.’ Dilansir dari The American College of Obstetricians and Gynecologist, justru vagina yang bersih dan normal ternyata memiliki bau.

Menurut seorang dokter bernama Dr Emily Gibson melalui blog medis bernama KevinMD, menghilangkan bulu kemaluan berarti membuka lebar daerah kewanitaan tersebut ke berbagai infeksi dan penyakit yang tentu akan mengganggu fungsi vagina.

Hal ini dikarenakan mencukur bulu kemaluan dapat membuat iritasi dan radang pada daerah kulit yang dicukur. Jika iritasi dikombinasikan dengan situasi lembap dan hangat yang ada di daerah kewanitaan, tempat tersebut akan menjadi sarang yang nyaman bagi beberapa bakteri patogen, antara lain streptococcus, staphylococcus aureus, dan methicillin resistant staph aureus (MRSA). Kesemuanya adalah bakteri penyebab infeksi berupa sekedar gatal-gatal hingga ruam yang parah di daerah kewanitaan. Bahkan MRSA adalah bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Tentu jika terjadi, hal ini akan mengganggu aktivitas seks bersama pasangan.

Belum lagi penyakit menular seksual yang lebih mudah tertular hanya karena mencukur bersih, salah satunya herpes. Para peneliti percaya, perpaduan antara luka-luka mikroskopis dan bakteri jahat yang senang ‘bermukim’ di bawah sana, menyebabkan sistem imun tubuh makin jelek. Hal itu terjadi secara sederhana hanya karena mencukur bersih bulu kemaluan.

Jika memang mencukur bulu kemaluan tujuannya kembali lagi ke kepuasan diri sendiri dan pasangan akan hubungan seksual, mengapa tidak menjadikan bulu kemaluan tetap ada atau tercukur rapi namun tidak ‘botak,’ demi kesehatan seksual kedua belah pihak? | MERDEKA



Baca Juga: