Kesepian membuat orang jadi kanibal?


BERANDA.COM IS FOR SALE 500,000 USD. WA (62) 081-550-58587.
SUITABLE FOR MARKETPLACE, NEWS PORTAL, SEARCH ENGINE, PROPERTY ETC.

Seorang koki berkebangsaan Rusia ditangkap setelah ketahuan melakukan praktik kanibalisme. Rupanya, pria, 21, yang bekerja sebagai koki itu tergoda untuk makan daging manusia. Tanpa ampun, ia pun menikam pasangan gaynya dengan membabi-buta. Setelah membunuhnya, ia merekam adegan memasak anggota tubuh pasangannya.

“Terdakwa setidaknya ingin mencoba makan sepuluh orang lagi,” ungkap penyidik Fedor Bludenov kepada Daily Mail. Ivan juga mem-posting video masaknya secara online.

Kanibalisme tampak begitu mengerikan. Pelaku kanibal memiliki ketertarikan yang besar untuk makan daging manusia. Mereka tidak akan menyesali perbuatan mereka. Sepanjang sejarah, manusia telah makan daging manusia.

“Ada individu-individu tunggal (tak ada interaksi sosial) yang merasakan bahwa makan daging manusia benar-benar memuaskan. Mereka melakukannya karena mereka menikmatinya. Mereka memiliki kepribadian psikopat dan merasakan kesepian yang ekstrim. Beberapa kanibal adalah seorang psikotik.

“Richard Trenton Chase adalah seorang pembunuh berantai yang mengonsumsi darah korbannya karena ia percaya alien ruang angkasa akan mengubah darahnya menjadi bubuk. Jelas, Richard adalah seorang penderita skizofrenia paranoid. Meski semua kanibal tidak psikotik, mereka sangat tahu apa yang mereka lakukan,” Postingan ini ditulis oleh Deborah Schurman-Kauflin, Ph.D. di psychologytoday.com dengan judul Why Cannibals Love Eating People.

Penganut kanibalisme mengalami euforia yang mengaktifkan pusat kesenangan di otak. Proses mencacah tubuh korban membuat perasaan mereka semakin rileks. Kebanyakan dari penganut kanibalisme adalah penyendiri yang ekstrem. Mereka merasa terisolasi dan kesal. Untuk mengisi kekosongan, mereka membunuh dan memakan korbannya.

Hal itu membuat mereka tidak pernah sendirian. Mereka tahu bahwa si Korban tetap bersama mereka. “Menyatu” di dalam tubuh dan aliran darah. Kanibalisme begitu memabukkan dan mendorong mereka untuk melakukannya lagi. Para kanibal selalu bangga dengan perbuatan mereka.

“Sayangnya, sangat sulit untuk memprediksi siapa yang akan menjadi kanibal. Mungkin ada tanda-tanda pada masa remaja seperti membunuh hewan kecil dan minum darah mereka. Namun, pelaku berusaha keras untuk menyembunyikan perilaku ini. Seseorang dengan kecenderungan psikopat yang tertarik pada darah dan kematian selalu menjadi perhatian. Ia lebih suka menghabiskan waktu untuk fokus pada darah dan pembunuhan,” kutipan lanjutan dari Why Cannibals Love Eating People.

Kanibalisme juga terkait penyimpangan perilaku seksual. Seorang pria Jerman, Armin Meiwes, 42, mewujudkan fantasi seksualnya dengan memakan pasangannya. Anehnya, pacar Armin bersedia dimakan dengan suka rela. Praktik kanibalisme seksual biasanya bermula lewat komunikasi di internet. Pertemuannya dengan Bernd-Juergen Brandes, 43, seorang insinyur komputer dari Berlin, diawali melalui perkenalan mereka di sebuah situs kanibal online. Rudolf Egg, psikolog dari lembaga kriminologi terkemuka Jerman, percaya bahwa ada ribuan calon kanibal seperti Armin di seluruh dunia, seperti yang dilansir di theage.com.au.

Karen Hylen, terapis utama di KTT Malibu Treatment Center di California, mengatakan bahwa secara historis manusia melakukan kanibalisme untuk bertahan hidup atau alasan agama. Kini interpretasi modern dari kanibalisme lebih terfokus pada penyakit kecanduan atau mental.

Karen mengatakan kepada huffingtonpost.com: “Kanibal memiliki kecanduan tidak hanya pada aspek makan, tetapi juga pada ritual berburu mangsanya. Layaknya pecandu kokain yang sedang menikmati sensasi menelan obatnya.”

“Sampai saat ini, tidak ada obat atau pengobatan yang efektif untuk para kanibal karena tidak ada obat atau psikoterapi yang dapat menanamkan sikap empati pada manusia,” tambahnya.

Miskinnya interaksi sosial antar manusia merupakan salah satu penyebab munculnya fenomena kanibalisme. Para kanibal mulai berfantasi karena mereka merasakan kesepian dan kesendirian yang ekstrim. Betapa ketakutan dan kekosongan mempengaruhi alam bawah sadar mereka. Faktanya, kanibalisme memang menjadi bagian penting dari peradaban manusia. Kemunculannya jelas dipengaruhi banyak faktor, terutama aspek psikologis. (merdeka)



Baca Juga: