Gaya hidup ini jadi faktor terbesar penyumbang kanker


BERANDA.COM IS FOR SALE 500,000 USD. WA (62) 081-550-58587.
SUITABLE FOR MARKETPLACE, NEWS PORTAL, SEARCH ENGINE, PROPERTY ETC.

gaya-hidup-ini-jadi-faktor-terbesar-penyumbang-kanker

Dalam 70-90 persen kasus kanker, gaya hidup yang sembarangan dan keadaan lingkungan di luar tubuh merupakan penyebab utama terjadinya kanker. Penelitian ini diungkapkan oleh jurnal Science, dilaksanakan oleh tim peneliti dari John Hopkins, menyebutkan bahwa 65 persen penderita kanker menderita kanker akibat mutasi DNA, sementara 35 persen sisanya mengalami kanker akibat kombinasi adanya mutasi, lingkungan dan warisan genetik.

Penelitian lain kemudian muncul untuk mendebat presentase tersebut. Song Wu, PhD, penulis utama penelitian dan asisten profesor Departemen Matematika dan Statistik di Stony Brook University di New York, mencatat bahwa para ilmuwan tidak melakukan analisis alternatif untuk menentukan sejauh mana faktor risiko eksternal berkontribusi untuk perkembangan kanker. Wu dan rekan-rekannya menerapkan empat pendekatan analitik serta alternatif untuk data yang sama yang digunakan dalam penelitian di jurnal Science tersebut dan menemukan bahwa:

Sebesar 10-30 persen kasus kanker karena faktor intrinsik. Salah satu pendekatan yang dilakukan peneliti adalah metode analisis pergantian sel jaringan, untuk menilai hubungan kuantitatif antara risiko seumur hidup kanker tertentu – seperti pankreas, paru-paru dan kanker kolorektal – dan pembagian sel induk jaringan normal.

Para peneliti menjelaskan bahwa jika faktor intrinsik risiko – yaitu, proses yang menghasilkan mutasi DNA acak – memainkan peran kunci dalam perkembangan kanker, maka jumlah total divisi dalam jaringan sel induk akan berkorelasi dengan risiko kanker seumur hidup.

Namun, mereka menemukan pola ini bukan pola yang biasa terjadi, dengan faktor intrinsik hanya terhitung sekitar 10-30% dari kasus kanker. “Singkatnya, terlepas dari apakah subpopulasi atau semua sel berkontribusi terhadap kanker, hasil ini menunjukkan bahwa faktor-faktor intrinsik tidak memainkan peran sebagai penyebab utama,” kata penulis.

Pendekatan lain yang menggunakan teknik analisis matematis untuk menilai tanda khusus mutasi, berhasil mendefinisikan jejak genom kanker dengan berbagai proses mutagenik. Tim mengidentifikasi ada 30 tanda khusus (signature) yang berbeda pada jenis kanker yang berbeda pula. Mereka menganalisis tanda ini untuk menentukan sejauh mana kanker dipicu oleh faktor intrinsik (internal) atau ekstrinsik (eksternal) seperti gaya hidup dan lingkungan. Dari sini, para peneliti menemukan bahwa kebanyakan kanker, termasuk paru-paru, kolorektal, kandung kemih dan kanker tiroid, sebagian besar dipicu oleh mutasi yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal misalnya merokok dan polusi. Hanya beberapa kanker yang dipicu oleh faktor internal seperti mutasi DNA secara acak.

Selain itu, para peneliti menemukan bukti epidemiologi yang kuat untuk mendukung teori mereka. Analisis terhadap imigran yang pindah dari negara dengan angka kejadian kanker yang rendah ke negara dengan angka kejadian kanker yang tinggi, ternyata risiko kanker mereka ikut menjadi tinggi.

Untuk hal ini, artinya faktor eksternal yang harus disalahkan. Kesimpulannya, faktor gaya hidup dan lingkungan, berkontribusi terhadap munculnya kasus-kasus kanker sebesar 70-90 persen. Ini jauh lebih tinggi dibanding faktor intrinsik yaitu sekitar 10-30 persen.

Temuan ini harusnya mendorong kita untuk menjaga pola hidup sehat. Kita tidak bisa lagi ‘bersembunyi’ dengan menyalahkan faktor genetik. Jauhi lingkungan yang terpolusi, berhenti merokok, batasi alkohol, olahraga rutin, kurangi konsumsi daging terutama daging olahan yang telah disebut sebagai pemicu kanker oleh WHO, dan perbanyak makan sumber antioksidan seperti sayur dan buah segar.



Baca Juga: