Cinta atau nafsu: Otak Anda bisa membedakannya


BERANDA.COM IS FOR SALE 500,000 USD. WA (62) 081-550-58587.
SUITABLE FOR MARKETPLACE, NEWS PORTAL, SEARCH ENGINE, PROPERTY ETC.

Apakah yang Anda rasakan adalah cinta, atau hanya sekedar nafsu? Tak ada yang bisa menjawabnya lebih tepat dari otak Anda. Karena bagi otak Anda, kedua perasaan ini membutuhkan bagian yang berbeda untuk bekerja.

Hasil penelitian yang diterbitkan pada Journal of Sexual Medicine menganalisa 20 penelitian yang berkaitan dengan efek seks dan cinta pada tubuh. Penelitian ini termasuk scan otak beberapa relawan yang diminta untuk melihat foto erotis, foto orang yang mereka sayangi, makanan, dan hal lain yang memicu kesenangan.

Dua bagian otak, insuma dan striatum, adalah yang bertanggung jawab untuk membedakan antara keinginan seksual dan perasaan cinta. Nafsu akan memicu bagian otak yang mengontrol bagian yang berkaitan dengan kesenangan. Kesenangan ini berkaitan dengan seks dan makanan. Namun cinta dan perasaan sayang memicu bagian otak yang lain, yang berhubungan dengan kebiasaan.

“Kami melihat adanya perbedaan bahasa antara cinta, keinginan seksual, dan kecanduan,” kata Jim Pfaus, profesor bidang psikologi di Concordia University, Montreal. “Namun, semua hal itu diproses pada tempat yang sama. Ketika kita mempertimbangkan hal ini, ide mengenai cinta pada pandangan pertama bisa jadi tidak benar. Orang hanya merasakan keinginan dan ketertarikan seksual.”

Otak memperlakukan perasaan cinta seperti kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama. Sehingga, setelah nafsu mungkin akan muncul cinta. Ketika cinta muncul, perasaan itu akan dibawa ke bagian yang berbeda di otak yang memproses kebiasaan dan membuat sebuah bentuk. Bentuk yang ada hampir serupa dengan ketika seseorang menjadi pecandu obat-obatan.

“Perubahan dari ketertarikan seksual pada cinta adalah mekanisme keterikatan dalam hubungan,” kata Pfaus, seperti dilansir oleh ABC News.

Ilmuwan menjelaskan bahwa mekanisme yang dimiliki oleh otak ini berkaitan dengan monogami dan berbagai macam jenis hubungan. Pfaus mengatakan bahwa mekanisme ini mengaktifkan kebutuhan untuk melindungi ketertarikan pada anak atau kekasih.

“Jadi sebenarnya, kecanduan, sama seperti cinta, adalah bentuk mekanisme wajar yang bisa dimiliki otak,” kata Pfaus. “Penelitian ini bisa membuat kita mengerti mengenai kecanduan, cinta, dan penemuan dalam bidang neuroscience lainnya.” (merdeka)



Baca Juga: